Tips Menjadi guru yang di sukai siswa

 Tips menjadi guru yang di sukai murid

Butuh Tips Menjadi guru yang di sukai siswa/murid baca postingan ini.

Mengajar memang seharusnya jadi hal yang menyenangkan. Karena faktanya kita ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Pastinya seneng dong, kita dapat menjadi salah satu orang yang ikut membangun negeri ini. Tapi saya rasa juga tidak semua pengajar atau guru merasa senang dengan profesinya. Tidak jauh-jauh faktanya ada guru di sekolah tempat saya PPL, kayak yang kurang semangat dalam mengajar. Dan pola mengajarnya juga tidak begitu menyenangkan – maaf pak, bu –. Hal ini apa karena gajinya yang sedikit? atau karena kondisi status yang masih honorer? atau karena apa? Entahlah, padahal yang saya lihat beliau statusnya sudah PNS. Tapi ya nggak tau kenapa ya? tapi kenapa kayak yang mengajarnya seperti asal-asalan. Eh, maksud saya mengajar tidak di jadikan profesi yang menyenangkan.

Indikator mengajar menyenangkan menurut saya cukup simple. Yang terpenting kita enjoy dalam mengajar dan siswa paham. Tidak perlu muluk-muluk menjadi guru yang killer untuk menjadikan siswa mengerti dan paham. Justru siswa akan terbunuh kreatifitasnya, siswa akan susah menyerap mata pelajaran, dan siswa tambah jengkel kepada sampean. Aduh maaf nampaknya istilah ini berlebihan.

Titik poinya minimal siswa mengerti dengan pelajaran, dan ketika pulang mereka bisa menjelaskan kepada orang tuanya, hasil apa yang didapatnya dari sekolah. Orang tua pasti senang kalau anaknya pulang bawa hasil. sama seperti saya kalau ketika pulang ke kosan bawa makanan. Pasti senang lah temen-temen saya. Hehe,

Nanti saya akan jelaskan lebih jauh mengenai guru killer tadi. Dan bagaimana menjadi guru yang disukai siswa.

Izinkan saya terlebih dahulu bercerita tentang keunikan siswa-siswa saya di kelas 7D.

Jadi, begini …..

(Belum juga selesai mengetik, goNdes datang membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dulu)

“Lagi apa ul ?”. dia menghampiri saya dengan kondisi basah kuyub.

Lagi mau cerita tentang siswa aku, jawab saya. Aduh ini airnya netes-netes ke laptop aku. 
Ah, sana ganti baju dulu. Tangan saya sambil mendorongnya.

“Emang ada apa dengan siswa sampean ?” tanya dia seolah tak benar-benar mau mendengar cerita saya.

Nggak sih, cuma unik aja. Apalagi di kelas 7D.

“Oh”.

Kamu dari mana kok basah kuyub gitu? Tanyaku sambil melihat kondisinya yang tak karuan.

“Anu, tadi kehujanan”.

Iya kehujanan dari mana? Tanyaku penasaran. Namun dia sudah nyelonong kebelakang. mungkin mau mandi dan ganti baju.

Ya sudahlah, biarkan goNdes berbenah.

Oh, iya saya belum pernah cerita tentang goNdes ya. Dan kenapa dia mau di panggil gitu. Kapan-kapan aja yah, sekarang mah saya mau cerita tentang pengalaman saya mengajar di kelas 7D.

Nyampai mana tadi, oh iya. Perkenalkan terlebih dulu ini nama-nama murid saya kelas 7D – katanya pengen disebutin satu-satu, saat baca blog saya tadi – yaitu Ananda, Aqila, Aripin, Azka, Christianno, Dera, Dila, Dinar, Fadila, Fitri, Hasna, Ira, Kurnia, Marprilyan, Raykhanz, Agung, Aziz, Rifqi, Nadia, Nisya, Pramudita, Rafi, Regina, Ridwan, Rika, Rizki, Shafa, Sofiatunnisa, Taufik, Veni, dan terakhir Yudha.

Saya yakin, anak-anak ini nanti kelak akan menjadi penerus bangsa. Dan menjadi stake holder manusia-manusia Indonesia modern. Amin.
Lalu apa sih, keunikan mereka? Hehee, sebetulnya keunikan ini berdasarkan apa yang saya lihat semata selama satu bulan lebih mengajar. Jadi bukan real atau bisa saja saya salah menilainya.

Mereka tidak mau memanggil saya dengan sebutan Bapak

Entah kenapa, mereka selalu memanggil kakak. Padahal, sudah berkali-kali saya kasih tau. “Kalo di sekolah tolong panggil kakak dengan sebutan Bapak”. “Kalau di luar kelas boleh panggil kakak”. Asal tidak ada guru yang tahu. “teu geunaheun kak, manggil bapak mah – nggak enak kak manggil bapak” kata mereka, “sebutan bapak mah bagi yang sudah punya anak” yang lain ikut bicara. “kan, memang bapak sudah punya anak” kata saya “kalian semua anak-anak bapak”. saya menyebutnya dengan begitu kasih sayang. “hemmmm,” salah seorang siswa nyeletuk.
Mungkin karena saya masih muda ya, barangkali. Seakan mereka enggan manggil dengan sebutan bapak. tapi saya takut aja, nanti pas ujian praktek mengajar. Mereka pada manggil kakak-kakak. Wah, kan saya malu di kelas nantinya ada bapak kepala sekolah, dosen pembimbing, dan guru pamong. Saat menguji praktek mengajar saya.

Ketika ketemu di luar kelas teriak-teriak panggil saya

Saat tengah asyik jalan mau ke ruang guru, saya di kagetkan oleh sekelompok anak, dari kejauhan panggil nama saya – sambil salah seorang anak bergaya mau memeluk saya – “kakak, kakak, kak maul” teriak mereka sambil mengulurkan tangan kemudian mencium punggung tangan saya.”iya, bagaimana ada kelas apa hari ini?” jawab saya. “kelas mah ada pak, itu”. Sambil menunjuk ruang kelas. “iya, maksud kakak ada pelajaran apa hari ini?”. pertanyaan saya ternyata membingungkan. “Oh, ada ini olahraga kak”. Karena bagi mereka ada kelas bukan berarti yang di maksud ada pelajaran. Hmmmb, kadang saya malu sekaligus seneng kalo berada pada momen itu. Hehee,

Kelasnya selalu pengen di masjid

Berbeda dengan kelas lain yang saya ajar, kelas 7D ini kelas maunya di masjid terus. Iya memang sih, kalau mengajarkan PAI seperti-sepertinya lebih kondusif kalo kelas berada di masjid. Namun, kalau terus menerus bisa saja menggangu orang-orang, atau anak-anak lain yang sedang akan sholat. Dan terlebih lagi sorotan kepala sekolah, seakan-akan sekolah ini tidak mempunyai ruang kelas yang cukup.
Begitulah kira-kira sedikit cerita saya tentang keunikan dari kelas 7D SMPN 27 Bandung, yang saya ajar. Atau mungkin itu bukan unik, tapi hal yang biasa di temukan di sekolah-sekolah lain yang anda ketahui. Alhamdulillah, anaknya baik-baik. Dan semangat dalam belajar. padahal pola pengajaran saya juga nggak bagus-bagus amat. Hehe,

∞∞∞∞∞

Kembali lagi ke topik guru killer tadi menurut D. Deni Koswara dan Halimah di bukunya “seluk-beluk profesi guru” mengatakan bahwa istilah guru killer diidentikkan pada guru yang galak di sekolah (meskipun bahasa inggisnya galak bukan killer). Guru killer jika diartikan mengandung sifat pembunuhan. Hal tersebut dibenarkan oleh sebagian orang pengamat pendidikan, karena dalam arti membunuh di sini adalah membunuh potensi. Ketika siswa dimarahi, ia akan merasa takut. Dalam rasa takut itu, potensi siswa bisa tertekan dan bahkan bisa terbunuh. Potensi siswa untuk menjadi hebat dan pintar bisa hilang gara-gara sering dimarahi oleh gurunya.

Masihkah anda mau menjadi guru killer lihat apa resiko yang ditimbulkan dari itu, sebetulnya apa sih penyebab guru menjadi killer? Menurut Fahd Jibran yang dikutip oleh Koswara dan Halimah. Bahwa guru yang galak biasanya memiliki masalah di luar kelas, baik itu masalah ekonomi, keluarga, maupun masalah-masalah lainya. Kemudian secara tidak sadar, mereka menumpahkan kekesalanya dengan bersikap galak di kelas. Di samping itu, adanya pemahaman bahwa kedisiplinan yang harus diterapkan dengan cara apa pun membuat mereka merasa punya legitimasi melakukan tindakan kekerasan untuk menegakkan disiplin. Imbasnya mereka galak, suka marah-marah, dan rajin memberi hukuman fisik pada anak didiknya.

Lalu bagaimana mengindari hal tersebut dan bagaimana sih, menjadi guru yang di sukai siswa?

Demi menjaga kondisi proses pembelajaran, peran guru di dalam kelas menjadi strategis dan menentukan. Oleh karena itu kita perlu menjadi guru yang disukai murid dan mampu menjadi fasilitator sekaligus motivator bagi murid-murid kita. Menurut Asep Saefullah yang di kutip oleh Koswara dan Halimah bahwa setidaknya ada tiga hal yang perlu menjadi catatan penting bagi seorang guru.

Pertama, berusaha mengersampingkan egoisme pribadi. Sikap mendikte, cuek terhadap pendapat anak, jarang kompromi saat memutuskan sesuatu yang terkait dengan proses pembelajaran, menunjukkan sikap yang otoriter. Kalau sampai situasi ini dibiarkan, berarti nalar daya kreativitas dan berani siswa mengemukakan pendapat, terkekang dan terkikis habis. Akibatnya menjadi minder dan takut untuk mengacungkan tanganya. Jadi bisa ditarik kesimpulan egoism guru, disadari atau tidak, menimbun potensi anak didik, bahkan mengerdilkan jiwanya.

Kedua, memprioritaskan penghargaan (reward) daripada hukuman (punishment). “dosa” anak didik harus diteropong dalam bingkai kepolosan dan ketidaktahuan mereka, bukan kepicikan dan kemunafikan layaknya orang dewasa. Kekeliruan anak didik masih dianggap wajar jika terpaksa kekeliruan itu harus ditukar dengan hukuman selama hukuman itu masih mengindahkan sisi humanitas dan edukatifnya, bukan malahan mengedepankan kekerasan, seperti yang selama ini lazim dilakukan. Bagaimana pun, hukuman yang miskin nilai edukatif dan sarat kekerasan – baik fisik atau psikis – sama sekali bukan solusi, bahkan bencana.

Ketiga, menciptakan situasi belajar yang menyenangkan. Guru dituntut untuk cerdas membaca situasi dan lihai “menyetir” suasana pembelajaran guna memastikan proses pembelajaran berjalan dengan baik dan terarah. Guru semestinya mahir membingkai pembelajaran dalam suasana kegembiraan yang lepas dan tanpa beban. Gagasan guru dalam memfasilitasi kehendak siswa guna memelihara kegembiraan anak didik bisa diejawantahkan melalui pembelajaran yang dilakukan di luar kelas. Cara ini cukup efektif saat anak didik merasa jenuh lantaran mata mereka sesak dengan formalitas situasi kelas. Lebih jauh lagi, “megutak-atik” tempat belajar, cara penyampaian, dan menyelingi proses pembelajaran dengan kuis, cerita, atau humor, dipandang mampu memelihara antusiasme dan keriangan anak didik.

Itulah tips bagaimana menjadi guru yang disukai siswa. Dengan anda melakukan hal-hal tersebut pasti siswa akan lebih friendly menerima anda sebagai gurunya. Sebab, dalam pandangan siswa guru yang disukai siswa itu adalah guru yang ramah, perhatian serta baik hati. Dan lebih penting lagi guru juga harus memberikan ruang aktif bagi para siswanya. Jadi pada saat proses pembelajaran berlangsung, siswa tidak merasa tertekan dan terbebani sehingga siswa merasa senang dengan pelajaran yang disampaikan meskipun terkadang pelajaran yang paling siswa benci.

Saya juga masih belajar, dan berusaha mengarah kesitu. Semoga kita benar-benar bisa menjadi guru yang disukai murid. Dan pada akhirnya kita mampu mencetak generasi Indonesia lebih maju dan beradap.

Sekian apa yang saya bisa ketik, semoga memberikan manfaat bagi sahabat blogger dan khususnya bagi saya calon selaku pendidik nantinya. Amin.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Tips Menjadi guru yang di sukai siswa"

Post a Comment