Kepolosan dan Keceriaan Mereka



Kepolosan Anak-Anak

Alhamdulillah sungguh luar biasa nikmat Allah itu, meskipun tiada uang sama sekali di saku. Kebahagiaan ini sungguh menyenangkan hati. Bukan tanpa sebab tapi hanya sekedar pertemuan, pertemuan antara calon guru dan murid tercinta.

Tanpa di sengaja terjadi dialog antara saya dengan murid di luar ruangan.

“Pak kenapa bapak berkumis? Padahal saya melihat di acara TV khazanah, kalau kumis dan jenggot itu tempat sarang syetan” tanya seorang murid usai pembelajaran.

Wow, hatiku tersenyum, “Ya bapak nanti dicukur kumisnya”. Jawab saya.

“Pak-pak dia berkata kotor, bawa-bawa anj**ing segala” murid yang lain menyahut. Padahal belum selesai saya menjawab pertanyaan mengenai jenggot dan kumis tadi.

“Hai, hai… jangan bawa-bawa kebun binatang ya kalo lagi sekolah. Kebun binantang tempatnya bukan disini”. Dengan penuh wibawa saya menjawabnya.

Dalam hati saya berkata “Padahal bapak juga kadang bawa-bawa kebun binantang kalo lagi ketemu teman sepermainan di kosan, hehe. Saya berharap semoga anak-anak ini nanti menjadi anak sholeh tidak mencontoh buruk prilaku saya”. Baru kemudian saya jawab pertanyaan tentang sarang setan tadi.

“Coba, kenapa kumis dan jenggot kok menjadi sarang setan? Sebetulnya bukan jenggot atau kumisnya yang menjadi sarang setan. Tapi memang muka orangnya aja yang mirip setan”. Anak-anak itu tertawa gembira.

“Nggak, Anak-anak hal itu tidak benar. Bapak meyakini hal tersebut”. Jawab saya. “Mengenai hal kumis dan jenggot itu merupakan budaya dari suatu daerah atau bangsa. Seperti dulu bangsa Arab banyak yang berkumis dan berjenggot. Rasulullah juga berjenggot lho – terdapat dalam hadisnya – wah, lalu orang yang menyatakan kumis dan jenggot tempat sarang syetan itu bagaimana? Mungkin barangkali maksudnya jenggot dan kumis bisa saja menjadi sarang setan kalo jenggot dan kumis itu kotor, tak terurus – gimbal. Tapi ya sudahlah jangan terlalu difikirkan. Kalian tidak perlu memelihara jenggot dan kumis” Kemudian saya sambung dengan topik lain.

“Kalian ingat, Rasulullah saw itu meninggalkan dua perkara, apa coba?” saya lontarkan pertanyaan kepada mereka.

“Nggak tau pak” ada anak yang spontan menjawabnya.

“Yang lain coba ada yang tahu, dua warisan apa yang di tinggalkan Rasulullah saw untuk kita umatnya?” saya mencoba menanyakan kembali, berharap ada salah satu murid yang menjawab. Dan mereka hanya diam.

“Nggak ada yang tahu? Gini bapak jelasin”. Mereka pun memasang wajah penasaran. “Rasulullah saw itu meninggalkan Al-Qur’an dan Al-hadis atau Sunnah untuk umatnya”.

“Oh, itu mah tahu pak” ada salah seorang siswa yang nyeletuk.

“Tuh, sudah tau tapi kenapa tadi ditanya nggak ada yang menjawab?”. Mereka melirik satu sama lain.

“Tadi mah nggak tahu pak sekarang, sudah tau pak”. Dengan polosnya mereka jawab demikian.

“Ya sudah bapak lanjut jelasin, biar kalian lebih paham”. Sambil menenangkan suasana obrolan.

“Di dalam As-Sunnah pula itu terdapat tiga macam, yang pertama Sunnah?” saya melontarkan kembali pertanyaan agar komunikatif obrolan itu.

“Sunnah…?” “yang pertama sunah …..?” mereka diam dan saling tengok kanan kiri bingung.

Sunnah Kau-liyah, atau sabda nabi yang di dalamnya terdapat perintah, larangan, himbauan, ajakan itu namanya sunnah Kauliyah”.

“Yang kedua perilakunya Rasulullah, tindak tanduknya, sikapnya misal bagaimana beliau bergaul dengan tetangganya atau masyarakat, bagaimana beliau jadi pemimpin, bagaimana beliau ketika gembira atau sedih. Dan sebagainya, dan sebagainya semua tentang perilaku-perilaku Rasulullah itu namanya Sunnah Fi’liyyah”.

“Sunnah apa?”

“Sunnah Fi’liyyah” mereka serentak menjawab.

“Bener…. Duh, pandai-pandai gini”. Saya senang mendengarnya, itu tanda bahwa mereka memperhatikan.

“Dan yang terakhir atau yang ketiga ini yang mengucapkan bukan Rasulullah, yang melakukan juga bukan Rasulullah tapi dibe-nar-kan. Tidak dilarang bahkan dibenarkan. Ini juga disebut Sunnah. Lho kenapa? Padahal jelas yang mengucapkan dan melakukan bukan Rasulullah tapi kok disebut Sunnah dan di benarkan oleh Rasulullah. Yang ketiga ini namanya Sunnah Ta’ririyah”. Nampaknya mereka sedikit paham.

“Pak, memelihara kuku yang panjang itu nggak boleh ya?”. “boleh” saya langsung menjawab. “Sebetulnya gini, kuku panjang itu identik dengan banyaknya kotoran yang menyelip di antara kuku itu. Kalo kuku pendek kan kemungkinan kecil ada kotoran yang menyangkut. Nggak papa alias boleh saja, memelihara kuku panjang. Dengan catatan harus rajin membersihkan hitam-hitam yang ada di kuku. Kalo enggak mau ribet, ya potong aja kukunya sependek mungkin. Kaya kakak”.

Sungguh perbincangan yang mengasyikkan dengan anak-anak itu. Mereka polos, mereka benar-benar menanya karena mereka belum tahu. Sedangkan orang dewasa bertanya bukan karena benar-benar tidak tahu, sedikit banyak pasti ada kepentingan yang disembunyikan. Dengan modus pertanyaan yang neko-neko.

Itulah sedikit cerita fiktif kembangan dari saya, suasana ketika berada di luar kelas. Di dalam kelas juga tidak kalah asyiknya. Saya mengemban amanah untuk mengajar empat kelas. Kelas VII A, B, C, dan D. di setiap kelas juga memiliki karakter kelas yang berbeda-beda. Ada kelas yang suka gaduh, kerjaanya gaduh. Di kelas gaduh di luar kelas juga gaduh. Satu dua kali saya kasih nasehat pada mau menurut, diem. Setelah itu gaduh lagi. Butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi kelas ini.

Ada kelas yang sering mengeluh, diberi tugas mengeluh. Diberi pembelajaran mengeluh, dikasih tahu tidak ada pembelajaran bersorak ramai. Pendekatanya harus beda untuk menghadapi anak-anak semodel ini. Saya harus teruti apa kemauan mereka, ikuti kemauannya dan pelan-pelan rebut hatinya. Tidak melulu soal pelajaran yang saya tanyakan, terkadang soal keluarga mereka, soal hubungan antara teman, tentang semangat mereka sekolah. Main kemana aja, apa cita-citanya, harapan-harapan ketika sekolah. Begitu, sekiranya apabila tetap mengeluh. Saya kasih toleransi memperpendek jam pelajaran, memberi banyak ruang untuk istirahat.

Kelas berikutnya, cukup lumayan. Anak-anaknya aktif, suka menanya. Memperhatikan ketika saya menerangkan. Ini kelas kesukaan saya. Tapi di kelas ini saya juga tertantang untuk benar-benar menyampaikan materi dengan sangat komunikatif. 

Itulah semua kelas dengan segala corak dan karakternya. Memang saya harus masih butuh banyak belajar dan sangat banyak teknik mengajar. PPL ini benar pengalaman yang luar biasa, semoga Allah selalu memberikan jalan untuk saya untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Amin.

Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "Kepolosan dan Keceriaan Mereka"