Perjuanganku dalam Menyongsong 10 November

 10 November 2016

10 November merupakan peringatan hari bersejarah, bangsa Indonesia tidak akan pernah lupa dengan tanggal ini. Perjuangan titik darah penghabisan melawan penjajah. Semangat juang para pahlawan untuk menegakkan ibu pertiwi. Kehidupan sejahtera, tentram, makmur dan tiada paksaan dari pihak luar itulah cita-cita bangsa luhur kita.

Coba kita tengok kembali peristiwa 10 November ini. Wikipedia say “Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak Tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme”.

Dapat kita garis bawahi peristiwa 10 November ini merupakan pertempuran pertama bangsa Indonesia melawan kolonial Belanda. Dahulu, apa kira-kira senjata yang dipakai oleh para pahlawan pejuang kita? Iya, benar “bambu runcing”. Wah, berani amat yah, padahal musuh memiliki senjata yang canggih anda tau Pistol, Meriam, Roket, Bom bahkan Wanita. Hemmmm, Sungguh luar biasa. Dan lebih luar biasa lagi semangat juang para pahlawan-pahlawan kita ini, maka dari itu ya patut sekali kita apresiasi – bikin tulisan tentang pahlawan misal. Hehe,

Sobat-sobat blogger pasti sudah tahulah sejarah bangsa ini. Apalagi tentang sejarah kisah heroik arek-arek suroboyo 10 November 1945, wah pasti lebih paham dari pada saya. Sobat juga sering nonton filmnya setiap tahun, membaca buku-buku sejarahnya, dan sering pula membaca artikel-artikel tentang sejarah pertempuran Surabaya 10 november. Iyo to?
Kalau iya berarti sobat memang masih peduli dengan bangsa ini dan respect batinnya masih kuat, kenapa saya mengatakan demikian. Karena Soekarno pernah berpesan ”Jas Merah” Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tuh, kan. Jangan dilupakan sejarah itu apalagi kita lupakan tokoh-tokohnya. Wah parah. Apabila berbicara tentang sejarah pasti tidak lepas dari peristiwa, tokoh, dan waktu.

Kalau saya pribadi agak lamat-lamat (kabur) sih tentang peristiwanya. Karena saya juga tidak lahir pada tahun sekian. Hehe, maksudnya, saya tidak tahu persis peristiwanya. Misal, kalau di tanya murid “Pak, 10 November itu memperingati hari apa sih, dan kenapa harus diperingati?” ya pasti saya cuma bisa jawab “Oh, 10 November itu memperingati hari pahlawan Nasional anak-anak, dan kenapa harus diperingati ya karena itu harinya pahlawan”. Ya cuma segitu yang saya bisa jawab. Sambil alibi. Biar nggak dibahas lagi. Hehe.

Kalau ditanya tentang tokoh-tokohnya, aduh. Saya harus searching dulu ke internet. Buka mozilla firefox terus ketik “google.com” masuk ke laman pencarian saya ketik “tokoh-tokoh pahlawan 10 November” tunggu-tunggu dan akhirnya muncul. Yang ada di urutan teratas saya buka dan terus copy-paste ketemulah ini ”Berdasarkan dengan Keputusan Presiden (keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2015 yang ditandatangani, Jokowi menetapkan; Almarhum Benhard Wilhem Lapian, Almarhum Mas Isman, Almarhum I Gusti Ngurah Made Agung, Almarhum Ki Bagus Hadikusumo, Almarhum Komisaris Jenderal Dr. H Moehammad Jasin sebagai Pahlawan Nasional”. Tanpa pikir panjang pokonya itu yang saya copy-paste. Pasti sobat juga bertanya-tanya apa betul pahlawan 10 November itu? Aduh jangan salah sangka dulu. Saya juga nggak tahu itu betul tokoh 10 November atau bukan. Tapi yang pasti yang bikin sedih banget “Setidaknya 6.000 – 16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 – 2000 tentara. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang”. Kalo ini saya dapat dari Wikipedia. Bagi saya merekalah semua yang gugur di medan perang sebagai pahlawan sejati.

Masih dalam perbincangan dengan murid saya tadi. Tak lama setelah mendengar jawaban saya, murid bertanya lagi.

“Pak lalu apa sih yang harus kita lakukan sebagai murid, agar bisa merealisasikan perjuangan para pahlawan itu, dan bapak sudah melakukan apa?” Waduh, pertanyaanya kali ini benar-benar menekan saya (dalam hati).

Dengan seakan-akan benar-benar memberikan jawaban saya berkelakar :

“Kalian harus belajar yang rajin, berbakti kepada orang tua, menghormati guru, menyayangi teman, rajin menabung dan tidak sombong, dan lebih-lebih kalian mau berziarah ke makam-makam pahlawan”. Mereka mendengarnya dengan seksama.

“Kalau ditanya bapak sudah melakukan apa, ya bapak belum melakukan apa-apa”.

“Loh pak” salah satu murid nyeletuk.

“Kok bapak belum melakukan apa-apa kan bapak sebagai guru, harusnya bapak juga harus sudah memberikan bukti yang nyata dong buat negeri ini”. Wah, sanggahannya seperti anak yang sudah besar aja.

“Bapak memang belum melakukan apa-apa, tapi bapak saat ini pada posisi bapak sekarang. Bapak akan berjuang. Pertama, Hafalan 3 Juz al-Qur’an. karena itu menjadi salah satu syarat sidang bapak. Kedua, Beresin skripsi. Kan bapak disini cuma praktek ngajar belum jadi guru tetap. Dan bapak juga belum lulus kuliah, ketiga, Segera wisuda. Nah, kalo ini harus. Bapak harus benar-benar berjuang karena orang tua sudah dorong-dorong bapak agar segera lulus. Ya begitulah anak-anak”.

“oh begitu, siap pak”.

Tidak perlu terus bernostalgia mendengar cerita sejarah perjuangan para pahlawan-pahlawan kita. Yang harus kita lakukan kini melakukan realisasi nyata buat Indonesia. Indonesia sudah amat sekarat dan benar-benar butuh pertolongan sobat-sobat. Ya, saya juga akan berjuang dengan jalan saya menyongsong 10 November. Dan sobat silahkan berjuang dengan jalan sobat sendiri. Saya yakin kita bisa jadi pahlawan-pahlawan sejati. Minimal pahlawan buat sang mantan. []

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Perjuanganku dalam Menyongsong 10 November"

Post a Comment