Perjuangan Massa Aksi 411 Belum Berakhir

 Aksi 411 Jakarta

Orang-orang banyak berdatangan pada hari ini, ke masjid. Untuk melaksanakan sholat Jum’at. Sudah menjadi kewajiban umat Islam untuk melaksanakanya. Begitu juga dengan saya, namun agak terlambat. Saya datang sudah pada tahap kutbah, alhamdulillah baru ditengah-tengah khutbah awal.

Terdengar suara khotib dari kejauhan “Umat islam akan bergerak semuanya apabila ada yang menistakan agamanya”.

“Walah-walah”. Pikir saya dalam hati sambil mencari tempat duduk.

“Jangan main-main dengan Agama Allah, Apalagi menghina satu ayatpun dari Al-Quran. Aksi 411 merupakan bukti bersatunya umat islam dalam menegakkan Agama Allah”. Tandasnya dengan suara mengebu-gebu.

“Ya Allah, ini orang bersemangat sekali khutbahnya”. Kata saya masih dalam hati.

“Jar” saya memanggil teman, yang ada di samping saya.

“Iya” jawabnya. Sambil ia menggelar sajadah untuk tempat sujud nantinya. Dan kami memang sengaja mengambil tempat di depan masjid yang ditanami rumput-rumput.

“Kamu denger itu orang berkhotbah”.

“Kenapa?” jawabnya, kelihatan kalau dia tidak mendengarkan.

“Oh ya sudah”. Saya tidak melanjutkan percakapan. Kalau saya lanjutkan nanti tambah memanjang. Dan Jum’atan saya kali ini tidak akan mendapat pahala.

Saya sudah dapat tempat duduk, dan saya sudah menggelar sajadah saya. Akhirnya saya lanjutkan lagi mendengarkan, tanpa berkata apa-apa.

“Penistaan Agama oleh seseorang yang berani-berani berkata ngawur didepan publik sudah keterlaluan. Hati umat muslim tersakiti dan tergerak untuk menghukum orang semacam ini, ulama-ulama juga meninstruksikan para jamaah untuk aksi turun ke jalan”. Tambahnya.

Kira-kira singkatnya seperti itu, dengan bahasa saya sendiri. Saya lantas berfikir, apa ya kira-kira tanggapan para jamaah jum’at kali ini. Kalau saya pribadi terasa campur aduk mendengarnya.

Pertama, Bingung. Iya saya bingung aja, sebetulnya apa belum selesai sih polemik tentang Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki TjahajaPurnama (Ahok) ini. Berikut tentang Aksi Masa 411. kalau secara administratif-kan pak Ahok sudah dibawa ke ranah hukum, tuntutan masa dan saksi-saksi juga telah diproses. Tinggal tunggu prosesnya Pemerintah Indonesia dalam menegakkan hukum. Oh, atau barangkali beliau ingin men-dendangkan ke jamaah tentang semangat juangnya pada aksi 411 kemarin, kalau gitu ya bolehlah. Silahkan pak.
Dan saya bingung juga apa cuma masalah ini doang yang harus di selesaikan. Padahal sudah hampir sepekan bahkan lebih, kok masih berkoar-koar dibicarakan. Takutnya nanti dapat memicu kembali kemarahan jamaah serta terus membenci pak Ahok. Ya memang isu sara merupakan topik terhangat di negeri ini. Bukannya nggak boleh sih, alih-alih saya di anggap sesat nantinya – karena ikut mencekal – Tapi mbok ya dilihat juga masalah lain seperti masalah Kemiskinan, Pendidikan, Pungli, Prostitusi, Masjid yang tidak ada jamaahnya, atau masalah yang hampir setiap hari kita rasakan. Iya Kemacetan. Bagaimana solutifnya?

Kedua, Gelisah. Iya jujur saya gelisah. Saya harus melakukan apa untuk masalah ini. saya harus bela siapa? kalo bela Islam, saya tidak Ikut aksi, mengumpulkan masa terus berangkat ke Jakarta juga tidak, atau minimal membenarkan perkataan para ulama bahwa sungguh pak Ahok menistakan Agama juga tidak. Kalau bela pak Ahok. Waduh. Saya juga tidak tau harus membela dengan cara apa. Saya nanti malahan dicap kafir. Yah saya masih gelisah sampai sekarang. Dan Allah belum memberikan pilihan pada saya, atau mungkin memang Allah tidak mengharuskan saya untuk memilih berpihak kepada siapa. Saya masih inget aja perkataan Gus Dur bahwa “Allah tidak perlu dibela, andaikan seluruh umat di dunia menjadi kafir. Tiada masalah bagi Allah”. Wah, wah. Gus apa bener seperti itu. Tuh saya malahan jadi bingung dan gelisah. Ya Allah.

Ketiga, Bahagia. Ternyata kebahagiaan bisa didapat dari mana saja. Sungguh ya Allah, saya bahagia melihat bagaimana lucunya kehidupan ini. sampai lupa ada hari kematian yang menunggu. Dan lebih bahagia lagi karena nikmat-mu tidak pernah habis saya rasakan. Seperti menertawai kepolosan, kebodohan, keblunderan, kerumitan, kompleksitas-masalah saya. Bahwa maha benar firman engkau “Fa Bi Ayyi Ala Irobbikuma Tukadziban”. Saya tidak perlu mendustakan nikmat engkau. Nikmat Iman dan Islam utamanya. Dan mendengar khotbah itu, saya bahagia karena saya benar-benar menjalankan perintahmu – sholat jum’at – mengikuti seluruh rukun sholat Jum’atmu. 

Itu hanya seklumit tanggapan saya dalam memetik hikmah sholat Jum’at hari ini. bisa saja saya salah, dan saya mohon ampun kepada Allah atas kekhilafan saya. Mohon maaf pula apabila tiada manfaat bagi sobat blogger. Saya mah hanya curhat. Hehee. Sekian.

Apabila menurut sobat judul Perjuangan Massa Aksi 411 Belum Berakhir tidak sesuai dengan isi postingan saya kali ini, mohon maaf. Tapi menurut saya sesuai. karena kenapa perjuangan belum usai, hal ini ditandai para jamaah yang masih buming membicarakan pak Ahok. dan saya mendengar khotbah jum'at ini pula. nuhun. 

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Perjuangan Massa Aksi 411 Belum Berakhir"

Post a Comment