Orang-orang banyak berdatangan pada hari
ini, ke masjid. Untuk melaksanakan sholat Jum’at. Sudah menjadi kewajiban umat
Islam untuk melaksanakanya. Begitu juga dengan saya, namun agak terlambat. Saya
datang sudah pada tahap kutbah, alhamdulillah baru ditengah-tengah khutbah
awal.
Terdengar suara khotib dari kejauhan “Umat
islam akan bergerak semuanya apabila ada yang menistakan agamanya”.
“Walah-walah”. Pikir saya dalam hati
sambil mencari tempat duduk.
“Jangan main-main dengan Agama Allah, Apalagi
menghina satu ayatpun dari Al-Quran. Aksi 411 merupakan bukti bersatunya umat
islam dalam menegakkan Agama Allah”. Tandasnya dengan suara mengebu-gebu.
“Ya Allah, ini orang bersemangat sekali
khutbahnya”. Kata saya masih dalam hati.
“Jar” saya memanggil teman, yang ada di
samping saya.
“Iya” jawabnya. Sambil ia menggelar
sajadah untuk tempat sujud nantinya. Dan kami memang sengaja mengambil tempat
di depan masjid yang ditanami rumput-rumput.
“Kamu denger itu orang berkhotbah”.
“Kenapa?” jawabnya, kelihatan kalau dia
tidak mendengarkan.
“Oh ya sudah”. Saya tidak melanjutkan
percakapan. Kalau saya lanjutkan nanti tambah memanjang. Dan Jum’atan saya kali
ini tidak akan mendapat pahala.
Saya sudah dapat tempat duduk, dan saya sudah
menggelar sajadah saya. Akhirnya saya lanjutkan lagi mendengarkan, tanpa
berkata apa-apa.
“Penistaan Agama oleh seseorang yang
berani-berani berkata ngawur didepan publik sudah keterlaluan. Hati umat muslim
tersakiti dan tergerak untuk menghukum orang semacam ini, ulama-ulama juga
meninstruksikan para jamaah untuk aksi turun ke jalan”. Tambahnya.
Kira-kira singkatnya seperti itu, dengan
bahasa saya sendiri. Saya lantas berfikir, apa ya kira-kira tanggapan para
jamaah jum’at kali ini. Kalau saya pribadi terasa campur aduk mendengarnya.
Pertama, Bingung. Iya saya bingung aja, sebetulnya apa
belum selesai sih polemik tentang Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki TjahajaPurnama (Ahok) ini. Berikut tentang Aksi Masa 411. kalau secara administratif-kan
pak Ahok sudah dibawa ke ranah hukum, tuntutan masa dan saksi-saksi juga
telah diproses. Tinggal tunggu prosesnya Pemerintah Indonesia dalam menegakkan
hukum. Oh, atau barangkali beliau ingin men-dendangkan ke jamaah tentang
semangat juangnya pada aksi 411 kemarin, kalau gitu ya bolehlah. Silahkan pak.
Dan saya bingung juga apa cuma masalah
ini doang yang harus di selesaikan. Padahal sudah hampir sepekan bahkan lebih,
kok masih berkoar-koar dibicarakan. Takutnya nanti dapat memicu kembali
kemarahan jamaah serta terus membenci pak Ahok. Ya memang isu sara
merupakan topik terhangat di negeri ini. Bukannya nggak boleh sih, alih-alih
saya di anggap sesat nantinya – karena ikut mencekal – Tapi mbok ya dilihat
juga masalah lain seperti masalah Kemiskinan, Pendidikan, Pungli, Prostitusi,
Masjid yang tidak ada jamaahnya, atau masalah yang hampir setiap hari kita rasakan.
Iya Kemacetan. Bagaimana solutifnya?
Kedua, Gelisah. Iya
jujur saya gelisah. Saya harus melakukan apa untuk masalah ini. saya harus bela
siapa? kalo bela Islam, saya tidak Ikut aksi, mengumpulkan masa terus berangkat
ke Jakarta juga tidak, atau minimal membenarkan perkataan para ulama bahwa
sungguh pak Ahok menistakan Agama juga tidak. Kalau bela pak Ahok. Waduh.
Saya juga tidak tau harus membela dengan cara apa. Saya nanti malahan dicap
kafir. Yah saya masih gelisah sampai sekarang. Dan Allah belum memberikan
pilihan pada saya, atau mungkin memang Allah tidak mengharuskan saya untuk
memilih berpihak kepada siapa. Saya masih inget aja perkataan Gus Dur bahwa
“Allah tidak perlu dibela, andaikan seluruh umat di dunia menjadi kafir. Tiada
masalah bagi Allah”. Wah, wah. Gus apa bener seperti itu. Tuh saya malahan jadi
bingung dan gelisah. Ya Allah.
Ketiga, Bahagia.
Ternyata kebahagiaan bisa didapat dari mana saja. Sungguh ya Allah, saya
bahagia melihat bagaimana lucunya kehidupan ini. sampai lupa ada hari kematian
yang menunggu. Dan lebih bahagia lagi karena nikmat-mu tidak pernah habis saya
rasakan. Seperti menertawai kepolosan, kebodohan, keblunderan, kerumitan,
kompleksitas-masalah saya. Bahwa maha benar firman engkau “Fa Bi Ayyi Ala
Irobbikuma Tukadziban”. Saya tidak perlu mendustakan nikmat engkau. Nikmat Iman
dan Islam utamanya. Dan mendengar khotbah itu, saya bahagia karena saya
benar-benar menjalankan perintahmu – sholat jum’at – mengikuti seluruh rukun
sholat Jum’atmu.
Itu hanya seklumit tanggapan saya dalam memetik hikmah sholat
Jum’at hari ini. bisa saja saya salah, dan saya mohon ampun kepada Allah atas kekhilafan
saya. Mohon maaf pula apabila tiada manfaat bagi sobat blogger. Saya mah hanya
curhat. Hehee. Sekian.
Apabila menurut sobat judul Perjuangan Massa Aksi 411 Belum Berakhir tidak sesuai dengan isi postingan saya kali ini, mohon maaf. Tapi menurut saya sesuai. karena kenapa perjuangan belum usai, hal ini ditandai para jamaah yang masih buming membicarakan pak Ahok. dan saya mendengar khotbah jum'at ini pula. nuhun.
Apabila menurut sobat judul Perjuangan Massa Aksi 411 Belum Berakhir tidak sesuai dengan isi postingan saya kali ini, mohon maaf. Tapi menurut saya sesuai. karena kenapa perjuangan belum usai, hal ini ditandai para jamaah yang masih buming membicarakan pak Ahok. dan saya mendengar khotbah jum'at ini pula. nuhun.

Belum ada tanggapan untuk "Perjuangan Massa Aksi 411 Belum Berakhir"
Post a Comment