Bila Terpaksa Tinggalkan, Kalau Sudah Tak Kuat Relakan

 Terpaksa Bukan Tindakan

Hai sahabat blogger, jumpa lagi di update terbaru aku. Dan sebagaimana janji aku, aku akan sajikan konten-konten yang insyAllah manfaat. Tutorial, Berita Acara Diskusi, Artikel Pemikiran Islam, dstd (dan sebagainya yang telah disepakati sepihak). Hee

Tapi kali ini aku mau berbagi tentang kisah hidup.

“Kisah hidup opo ul?”.

“Masalah cinta yo?”

“Opo masalah sampean gak punya uang?”.

Bukan, bukan itu yang akan aku ceritakan. Tapi kisah seseorang yang berjuang tiada henti, untuk menegakkan agama Allah. Kisah ini aku dapatkan pagi hari ini, melalui penuturannya langsung.

“Coba sampean ceritakan”.

Hari ini (red : 8 November 2016) aku ada jadwal piket guru di sekolah. Aku harus berangkat pagi-pagi. 06.00 diriku harus sudah tiba di sekolah, kenapa demikian. Karena di SMPN 27 Bandung (tempat aku PPL) memiliki program unggulan, yaitu Pembiasaan. Ya jadi, mau nggak mau aku harus berangkat pagi untuk mengikuti program pembiasaan tersebut.

Program pembiasaan ini sudah cukup lama berjalan, hampir 6 tahun-an. Mulai dari 2009-sekarang. Siswa di dorong untuk melakukan rutinitas kegiatan spiritual. Sholat dhuha sebagai produk pembiasaan itu. Dengan diawali baca quran bersama, dilanjutkan sholawatan; bacaan asmaul-husna; Tausiyah; dan pada titik puncaknya melakukan sholat Taubat dan Dhuha.

Suasana yang sungguh menakjubkan, pembiasaan ini se-mua kegiatanya seperti-seperti membakar gejolak-gejolak kenakalan remaja. Baca quran, sholawat, mendengarkan tausyiyah, melakukan sholat goib, sholat taubat terakhir sholat dhuha. Semuanya membangkitkan energy positif untuk mengawali hari ini. Ketika pagi-pagi sudah semangat pasti sampai siang akan lebih mudah untuk mendapatkan ilmu-ilmu baru, yang nanti pembelajaran akan di mulai pukul 07.00.

Aku juga sebetulnya sering bolos kalo pas jadwal pembiasaan, hehe. Pasalnya jam segitu kan belum bangun. Jarak dari kosan ke sekolah juga jauh. Loh, tapi kok hari ini kamu bisa? Iya karena aku nggak tidur alias be-ga-dang. Pedih banget rasanya mata ini, kantuk aku tahan sambil dengerin pembimbing menyampaikan tausyiyahnya. Badan uda gemetaran, pengen sekali berbaring di atas Kasur yang empuk. Aku disuruh ikut kondisiin anak-anak yang baru dateng, suruh mereka segera lepas sepatu, ambil wudhu dan masuk ke masjid. Dalam kondisi yang ngantuk amat itu, aku teriakin anak-anak. “ayo, masuk-masuk. Segera ambil wudhu”. Berjalan kesana kemari seperti mau tumbang.

Lebih parah lagi, hari ini kan aku berkendara sendiri (motoran dewean). Biasanya dengan Fajar (temen se-perjuangan) tapi dia lagi ke kiara condong, menginap di saudaranya. Jadi dia langsung berangkat dari kircon ke sekolah. Aku di jalan seperti rasanya mimpi, iya seperti ada yang menyelimuti aja jalan itu. Putih, kayak berkabut tapi bukan. Lihat sekeliling jalan melesat serasa pelan padahal speedo motor hampir 90km/jam. Sampai jempatan layang Surapati itu puncaknya, aku bener-bener tak sadar kalo lagi naik motor. Dan itu serasa di dunia mimpi bukan dunia maya. Haduh, ya Allah untung aja engkau masih sayang pada hamba-mu ini. untung aku nggak terjadi apa-apa padaku. eh, malah curhat.

Balik lagi aja dalam pembahasan program pembiasaan tadi, bila di kaitkan sebagaimana dalam buku “mengubah yang biasa menjadi luar biasa” karya Agus S dan Ayasha. Terdapat 6 tips untuk menggapai kesuksesan dunia dan akhirat. Yaitu:


1.   Curhat pada sepertiga malam terakhir.
2.    Memulai Aktifitas dengan sholat dhuha.
3.    Berzikir Asmaul Husna.
4.    Bersyukur akan memunculkan potensi diri.
5.    Membuka pintu kesuksesan dan menutup pintu kegagalan dengan Sedekah.
6.    Memuliakan orang tua berarti membuka jalan sukses.

Perhatikan pada tips no 2 dan 3. Itu juga sama seperti yang dilakukan pada program pembiasan di SMPN 27 Bandung. kenapa sih, harus sholat dhuha dan kenapa sih harus berzikir asmaul-husna. Ya jawabanya, karena amalan itu banyak manfaatnya.

Melakukan sholat dhuha secara rutin itu akan menjembatani mencapai kesuksesan. Yang pasti Allah akan mencukupi kebutuhan kita, masak sih?, iya ini ada hadis qutsi-nya. “Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat pada pagi hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhan-mu pada sore harinya”. Jadi jika kita memulai hari dengan sholat dhuha, Allah akan penuhi rezeki kita pada hari itu. Allah juga akan memudahkan kita untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Melancarkan urusan-urusan kita dan Allah mencukupi semua kebutuhan kita. Percaya?

Masih banyak lagi manfaat sholat dhuha, itu merupakan contoh besarnya. Terus kenapa harus mengamalkan Dzikir Asmaul husna? Menurut Agus S – Ayasha bahwa sesungguhnya di balik setiap Asmaul Husna terdapat misteri yang sangat dalam dan luas dan berada di luar jangkauan manusia. Allah swt akan mengabulkan keinginan hamba-hambaNya yang berdoa dengan penuh peng-harapan dan ketulusan sambil menyebut namaNya sesuai dengan misteri yang terkandung dalam nama tersebut. Luar biasa bukan main. Maka dari itu segera amalkan, terus lak-,

“Sebentar-sebentar, katanya mau ceritain kisah orang yang sampean omongin itu?”

“Kok malah curhat, ceramah, nge-cubrus gitu”. (GoNdes memotong pembicaraanku)

Astagfirullah, iya sabar dong. Ini kan prolog dulu.

“Prolog? Berarti belum mulai kisahnya”

 Iya, ini aku mulai.

Yowes ndang (udah buruan) ul”.

Setelah selasai pembiasaan sholat dhuha itu, aku tidak lantas pergi ke ruang piket. Aku ingin rasanya ngobrol dengan pembimbing pembiasaan hari ini, pak giwur namanya. Beliau guru PAI di sekolah ini. sekaligus guru pamong PPL aku. Hehe,

Percakapan aku mulai dari mana nih bingung. (dalam batin, sambil berjalan menghampiri beliau)

“Bapak”, kedatangnganku mengagetkan. Sebab beliau lagi beberes microphone. “kalau saya ingin tanya-tanya seputar program pembiasaan dhuha ini ke siapa ya?”

“Bisa, ke bapak. atau ke bu Irma atau pak Hj. Dede (red: guru PAI)  boleh”. (beliau menjawab sambil mengajak saya untuk duduk).

“Oh, iya-iya pak. Ini pak saya melihat dan sepertinya tertarik dengan program ini”. sok-sok an aku ini. (awal percakapan yang bagus batin-ku).

“Apa yang bikin Maulana tertarik?” (beliau menatap ke arah aku dengan tajamnya).
“Emmmmb, iya programnya pak”.

“Dalam segi apanya ?”.

“Dalam segi, emmmb”. Aduh kacau bingung.

“Jadi gini pak, saya mau bertanya aja terkait program ini sekaligus kami jadikan laporan PPL. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya”.

“Oh, boleh-boleh”.

“Maulana”. (beliau berkata dengan pelan)

“Iya, pak”.

“Tadi gimana lihat kondisi anak-anak dalam mengikuti pembiasaan ?”.

“Bagus pak, siswannya juga lumayan banyak. Hampir tidak ada tempat. Masjid penuh, pelataran juga penuh”. (jawabku sambil puter otak, soalnya instrument pertanyaan belum aku siapin)

“Bagaimana semangat mereka menurut Maulana?”

“Semangatnya, saya rasa juga bagus. Mereka datang hampir tiada yang telat”. “saya datang aja tadi sudah ada beberapa yang sudah stay di masjid baca quran”.

“Iya memang seperti itu kelihatanya”.

“Maksudnya, pak”. Aku bertanya penasaran.

“Program pembiasaan ini, sudah hampir 5 tahun jalan. Dari tahun ajaran 2009/2010 sampai sekarang. Dulu, kalau Maulana tahu. Pada tahun-tahun awal – karena bapak memang sudah lama disini jadi tahu dan apal persis – siswa yang hadir pembiasaan itu ribuan”.

“Wah, bagus atuh pak”.

“Iya memang Maulana, namun yang menjadi sorotan bapak itu pada kualitas kesungguhan dalam mengikuti pembiasaan ini. Terlihat sekilas siswa begitu banyak – dulu malahan mulai dari kelas VII-IX – tapi seperti cuma main-main. Belum ada yang bener atau sungguh-sungguh kalau ini itu merupakan sebuah kebutuhan spiritual. Bukan hanya sekedar mengikuti aturan sekolah. Datang selalu pagi-pagi, tapi seperti efeknya tidak ada bagi mereka”.

“Oh”. (sambil tersenyum kaku)

“Bapak, mengeluh sebetulnya Maulana”.

“Mengeluh kenapa pak?”

“Bapak dari dulu itu selalu aja begini, sendiri. Rekan-rekan bapak yang lain seperti tidak memberikan support secara penuh. Bapak membimbing di depan, memberikan tausiyah. Tapi anak-anak yang di luar masjid, tidak terkontrol. Ada yang ramai, main, lari-larian. Wah, pokoknya. Tapi syukur alhamdulillah tahun-tahun ini ada pak Ijang (red: guru PAI yang baru di angkat) bapak merasa terbantu”.

“Memang bapak dulu tidak ada yang menemani pak, sebelum ada pak ijang?”

“Dulu banget sebetulnya ada, itu bapak kepala sekolah sebelum yang sekarang (red: sudah pergantian pengurusan) beliau lah yang selalu memotivasi bapak untuk terus berjuang mengelola pembiasaan ini. beliau berkata pada saya – budak kudu di paksa mun geus di pakse ngke lila-lila jadi biasa ngkena jadi karakter (siswa harus di paksa agar terbiasa dan menjadi karakter) – beliau (red : kepsek)  selalu bisa buat bapak semangat lagi. Misal bapak dulu mengeluh, kenapa selalu bapak yang urus ini anak-anak. Padahal secara tanggung jawab bukan hanya pada guru PAI saja. Harusnya guru-guru lain juga ikut membantu. Tapi beliau menjawab ‘jangan paksakan orang yang tidak mau untuk mau, satu orang juga sudah cukup asalkan mau’.  Bener, kata bapak. iya iyah. Dari situ bapak semangat lagi”.

“Pak kalau selama ini, pernah ada tidak yang meneliti output dari pembiasaan ini?”.

“Kalau penelitian secara terstruktur sih tidak pernah, tapi bapak pernah mendengar dari masyarakat atau temen bapak. Ada siswa yang terus konsisten melakukan pembiasaan ini saat sudah di sma. Ketika guru belum ada atau waktu jam kosong, dia pergi ke masjid sholat dhuha. Pas di tanya oleh salah satu guru. Kamu lulusan SMP mana? Lulusan SMP 27 bu/pak. Nah, itulah yang membuat bapak merasa terobati perjuangannya. Mungkin dari 1000 hanya segelincir anak yang mendapatkan hidayatut taufik, untuk terus konsisten melakukan pembiasaan sholat dhuha”. (sambil menarik nafas panjang) “yaaaah begitulah Maulana, perjuangan memang harus terus”. (sambil tertawa).

“Iyaaa pak”. (ikut tertawa).

“Dulu juga pernah ada program selain sholat dhuha, program mengaji sebelum pembelajaran. Tapi kendalanya pada guru kelas masing-masing karena tidak semua guru yang hadir tepat waktu. Jadi ya anak-anak pada ribut. Tidak berjalan programnya. Paling lama dulu satu-dua bulanan”.

“Iyaa pak”. (Aduh, ada jadwal piket. Harus disudahi percakapan ini, padahal masih seru).

“emmmb, pak. Begitu aja dulu pak. Nanti di sambung kembali, saya mau piket dulu”.

“Oh, iya Maulana silahkan”.

Begitu kira-kira Ndes cerita aku tentang perjuangan seseorang dalam menegakkan Agama Allah, mendidik anak bangsa dan tiada henti berdoa untuk kesuksesan mereka.

Ndes, Ndes.

(Malah tidur)

Terima kasih sudah mau baca kisahku di Bila Terpaksa Tinggalkan, Kalau Sudah Tak Kuat Relakan

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Bila Terpaksa Tinggalkan, Kalau Sudah Tak Kuat Relakan"

Post a Comment